Alasan
“Katanya, pasti ada satu orang yang selalu kita inget di hidup kita. Orang itu adalah first choice kita, seseorang yang benar-benar kita pilih. Masalahnya apakah kita juga merupakan first choice mereka? Kalau mereka tidak memilih kita, dan kita akhirnya memutuskan untuk bersama second choice, apakah kita juga merupakan second choice dia? kalau tidak, gimana bisa seimbang? Ya jadinya kayak konsep Settler and Reacher di film How I Met Your Mother, sih. Mungkin suatu hubungan baru bisa berhasil kalau kita dan dia sama-sama first choice, atau second choice, atau bahkan third choice.”
“Hmm, teori kasar kamu make sense, but there is always an exception in every rule. Tidak semua orang punya kadar ego yang sama. Beberapa orang memilih untuk menjadi Reacher, menerima bahwa pemberian orang yang dipilihnya itu tidak sebanding dengan apa yang dia berikan. Dan sebenarnya itu yang aku cari. Menjadi exception dari seseorang, tidak mengikuti ‘rule’ yang sudah terbentuk secara universal. Isn’t it sweeter if someone says “kamu bukan perempuan yang sempurna, kamu bukan perempuan yang seharusnya aku suka, tapi gak tau kenapa aku suka sama kamu”?”
“Pertanyaan selanjutnya, kenapa seseorang harus memberikan ‘exception‘-nya itu ke kamu? Alasannya apa?”
“Gak harus ada alasan. Kalau kamu benar-benar cinta sama seseorang, justru kamu malah gak tau alasannya apa.”
“Aku pernah denger itu di TedX, Sujiwo Tedjo bilang kalau kita punya alasan untuk cinta sama seseorang itu namanya bukan cinta, karena cinta bukan matematika. Eh menurut kamu kehidupan itu punya alasan gak? Kamu punya alasan untuk hidup gak?”
“Punya, dan seharusnya emang ada.”
“Berarti cinta juga seharusnya punya alasan. Cinta itu sebagian kecil dari kehidupan. Kalau kehidupan aja punya alasan, berarti setiap bagian dari kehidupan itu juga punya. Cinta, pernikahan, semuanya.”
“Kalau begitu, alasan itu hanya belum kita temukan.”
———-
19/05/13.
Pembicaraan dengan seseorang yang selalu saya nantikan teori-teorinya tentang cinta (yang menurutnya penuh dengan logika), hubungan, dan kehidupan.
Muhammad Akhyar: Semu
Tulisan ini adalah karya Samuel Mulia. Terbit di Kompas, 12 Mei 2013. Layak disimak.
Pada suatu pagi seorang rekan kerja mengirimkan pesan yang membuat saya berpikir antara gede rasa dan tak percaya. Begini bunyinya. ”Mas, setelah tadi ngobrol sama kamu, kok aku pikir Mas Sam bakalan sama dia…
If I could say sorry for million times, I would say it to you by now. Hurting you was never my intention, even by words, words that can be as sharp as a knife that can stab you right to your heart.
Ketika aku menyalakan api untuk memanaskanmu, ketahuilah bahwa api itu membakarku. Aku adalah orang yang paling merasakan sakit karena melihatmu terluka.
Please know
there are much better things in life than
being lonely or liked or bitter or mean or self-conscious.
We are all full of shit.
Go love someone just because, I know your heart may be badly bruised, or even the victim of numerous knifings, but it will always heal, even if you don’t want it to; it keeps going.
There are the most fantastic, beautiful things and people out there,
I promise.
It is up to you to find them.
Chuck Palahniuk (via randomnessoverload)
(Source: durianquotes, via irfanrinaldi)
Free Loving
“Love me with your hand stretched out freely - open minded” Elizabeth Barret Browning
Cinta seharusnya membebaskan.
Kebanyakan orang mengasosiasikan cinta dengan kepemilikan. Menurut mereka kalau dua orang saling mencintai, seharusnya mereka hidup bersama dengan sesuatu yang ‘mengikat’. Saya bertanya beberapa kali ke teman-teman kenapa mereka berpikir bahwa status itu penting, dan jawabannya simpel: rasa aman.
“gue ngerasa aman aja kalo ada status yang mengikat, bisa bilang ke orang-orang kalo dia pacar gue. Selain itu, biar dia gak kemana-mana juga dan lebih gampang buat merencanakan pernikahan.”
“hmm good point. tapi lo tau dari mana dia gak akan kemana-mana? tau dari mana dia gak akan ninggalin lo?”
“seharusnya dia komit sama pilihan dia, gue yakin kok dia cowok yang bertanggung jawab”
“jadi, dia akan terus hidup bareng lo cuma karena tanggung jawab?”
“ya komitmen”
“komitmen harus ditunjukkan dengan kepemilikan ya?”
“kok lo bego banget sih, Ja..”
Lalu ada percakapan lain.
“You really should make up your mind. Aneh banget sih ada orang yang malah membebaskan orang yang disayang buat datang dan pergi sesukanya. Kita para perempuan deserve to be treated so much better than that, our pride will not let us be an option. Mereka harus menghargai kita dengan menunjukkan kalo kita adalah prioritas mereka, dengan memperkenalkan ke temen-temen dan keluarganya sebagai pasangan.”
“Justru by the name of our pride, kita seharusnya jangan menjadi anyone’s anything. Emangnya kita benda yang ada labelnya? Dengan membebaskan mereka, assessment kita terhadap mereka justru lebih dalam. Lo mau kan menghabiskan sisa hidup lo bersama orang yang bener-bener cinta sama lo, yang bisa bahagia cuma dengan ngeliat lo bahagia, yang konsisten mau bareng sama lo simply because he feels comfort and warm to be by your side, dan simply karena mereka melihat keutuhan dirinya cuma dari lo? Itu cuma bisa bener-bener dilihat ketika kita membebaskan mereka. Dengan semua kebebasan yang mereka miliki, dengan semua pilihan mereka terhadap cewek-cewek lain, do they choose us? Bisa gak mereka konsisten ke kita, tanpa mereka merasa ‘terpaksa’ karena terikat tanggung jawab.”
“but that’s not common in our society”
“don’t be trapped by paradigm, and don’t be trapped by what I’m saying. Only us know what is good for us, not them, even not our closest ones”
IRIS
And I’d give up forever to touch you
Cause I know that you feel me somehow
You’re the closest to heaven that I’ll ever be
And I don’t want to go home right now
And all I can taste is this moment
And all I can breathe is your life
When sooner or later it’s over
I just don’t want to miss you tonight
And I don’t want the world to see me
Cause I don’t think that they’d understand
When everything’s made to be broken
I just want you to know who I am.
“Takdir adalah konsekuensi dari pilihan kita”
Rangkuman dari pembicaraan beberapa minggu lalu di suatu mall di Jakarta
Ultimate Happiness
It’s nice to see others happy and totally in love, like there’s only happiness in their world and nothing can take that away from them. From that sight I understand something, being happy means spreading happiness, and that’s how the world supposed to be: fulfilled by love and joy.
And me, I’m just a little dust in the wind who is smiling seeing others happy, standing in the corner to watch people laughing, helping others draw a little smile on their face by giving anything I can give; without even care about my own feeling.
Making others happy is the ultimate happiness. But if the term of spreading happiness means we have to be happy first, then I’m nothing in this world since I’m too scared to feel that happiness and love.
To love and to be loved is everyone’s hope. The pain caused by that expectation just leave me here with a suggestion that I will never let myself digging my own grave again.
So I change my perspective: happiness is seeing and making others happy.





3367